sejarah kawah sikidang dieng wonosobo

Komplekscandi-candi di Dieng dibangun pada abad ke 7-8 Masehi, pada masa pemerintahan Kerajaan Kalingga, dengan Ratu yang sangat fenomenal dalam sejarah kita, yakni Ratu Sima. Harus diakui bahwa kompleks percandian Dieng merupakan bukti kebesaran Wangsa Jawa pada waktu itu, yang kemudian disusul munculnya Dinasti Sanjaya dan Syailendra yang berkuasa di Jawa beberapa abad kemudian. KawahSikidang adalah salah satu objek wisata yang berada di kawasan vulkanik Dataran Tinggi Dieng, merupakan kawah yang paling populer dibanding kawah-kawah lain di Dieng karena memiliki akses paling mudah untuk dijangkau. Kawah Sikidang merupakan kawah dengan lapangan fumarole terluas di banding kawah-kawah lain di Dieng. SejarahKawah Sikidang Instagram by @ceriswisata. Ada dua versi mengenai asal usul Kawah Sikidang, secara ilmiah dan mistis. Secara ilmiah, Kawah Sikidang terjadi akibat letusan gunung berapi bertahun-tahun lalu yang menyemburkan lumpur vulkanik yang meletup-letup disertai gas beracun dan membentuk asap putih pekat yang kini disebut Kawah Sikidang. KawahSikidang merupakan salah satu obyek wisata alam yang berada di dataran tinggi Dieng Wonosobo, Jawa Tengah. Dataran Tinggi Dieng terbentuk karena letusan gunung Prahu Tua yang terjadi berabad-abad yang lalu, namun aktivitas vulkanik dikawasan ini masih berlangsung aktif hingga saat ini, salah satunya bisa kita saksikan di Kawah Sikidang. Kawah Sikidang masih aktif sampai sekarang, dan cukup aman untuk dikunjungi karena kadar belerangnya rendah. kaliini jalan-jalan kita ke daerah yang dingin yaitu Dieng, tepatnya kita mengunjungi wisata Kawah Sikidang. saat sampai di lokasi pada perkiraan suhu di Hp Site De Rencontre Pour Mariage Gratuit. Kawah Sikidang Dieng Wonosobo memiliki legenda yang unik dan menarik untuk dipelajari. Bagi Anda penggemar wisata alam sekaligus wisata sejarah dan budaya, kunjungilah kawasan Kawah Sikidang ini. Kawah Sikidang merupakan cekungan berisi kawah yang timbul karena aktivitas Gunung Berapi di Dataran TInggi Dieng. Lokasi dari kawah Sikidang ini berada di tanah yang lumayan datar, sehingga pengunjung dapat dengan jelas melihat gumpalan asap yang keluar dari Kawah Sikidang ini. Hal ini lah yang kemudian menarik perhatian dari para pengunjung karena dapat melihat secara langsung fenomena unik dan menarik tersebut. Kawah Sikidang ini mengandung kandungan belerang yang tinggi sehingga gas yang keluar juga mengandung belerang sehingga sangat beracun dan dapat berbahaya bagi kesehatan. Untuk tujuan keamanan bagi pengunjung di sekitar kawah Sikidang sudah dibangun pagar yang terbuat dari kayu, yang fungsinya sebagai pembatas agar tidak ada pengunjung yang tercebur dalam kawah atau terkena dampak dari gas beracun Kawah Sikidang. Sebagai tindakan pencegahan sebaiknya Anda tidak berada melewati batas pagar kayu serta selalu gunakan masker pelindung hidung yang banyak dijual di sekitar parkiran Kawasan Wisata Kawah Sikidang Dieng. Keunikan Kawah Sikidang dalam paket wisata Dieng ini adalah pada legenda menurut masyarakat sekitar yang menceritakan tentang asal usul Kawah Sikidang yaitu Legenda Kawah Sikidang yang kemudian berhubungan dengan kondisi anak-anak di Dieng yang sering terdapat anak yang memiliki rambut letak kawah utama yang berpindah-pindah inilah kawasan ini diberi nama “sikidang”, yang berasal dari “kidang” kijang. Kawah utama yang berpindah-pindah disamakan dengan sifat kijang yang senang melompat ke sana-ke mari. Selain itu, ada sebuah legenda mengenai kawah ini. Pada masa lalu, di sekitar kawasan ini, hiduplah seorang gadis cantik yang bernama Shinta Dewi. Kecantikan Shinta Dewi tersebar ke penjuru daerah sehingga banyak pemuda yang ingin meminangnya. Sayang, tidak ada yang berhasil meminang Shinta Dewi karena gadis cantik tersebut meminta mas kawin dalam jumlah besar. Kecantikan Shinta Dewi pun terdengar oleh Kidang Garungan, seorang pangeran kaya raya. Tapi, walau kaya raya, sesuai namanya, ada yang tidak biasa pada pangeran ini. Kidang Garungan memiliki tubuh manusia tapi kepalanya merupakan kepala kijang – karenanya diberi nama “kidang”. Pangeran Kidang pun mengutus pengawal untuk menyampaikan lamarannya kepada Shinta Dewi dengan iming-iming mas kawin yang sangat banyak. Mendengar mas kawin yang ditawarkan oleh pengawal yang datang menemuinya, Shinta Dewi menerima lamaran Pangerang Kidang. Dalam benaknya, seorang pangeran yang kaya pastilah juga berwajah tampan. Namun, alangkah terkejutnya Shinta Dewi ketika melihat perwujudan Pangeran Kidang. Shinta Dewi pun menjadi bingung karena dia telah mengiyakan lamaran dari sang pangeran. Gadis ini pun mencari akal untuk membatalkan lamaran. Shinta Dewi lalu memohon kepada Pangeran Kidang agar dibuatkan sebuah sumur yang besar karena masyarakat sekitar sangat kesulitan mendapatkan air. Sumur tersebut harus dibuat sendiri oleh sang pangeran dalam satu hari. Pangeran pun giat, Pangeran Kidang menggali tanah menggunakan tangan dan terkadang tanduknya. Melihat itu, Shinta Dewi kembali khawatir kalau-kalau sang pangeran berhasil menyelesaikan permintaannya. Karena kalut, Shinta Dewi lalu meminta masyarakat menimbun sumur yang sedang digali sang pangeran selagi sang pangeran masih berada di dasar sumur. Pangeran Kidang akhirnya terkubur hidup-hidup di sumur yang digalinya sendiri. Amarah sang pangeran tak tertahan. Amarah itulah yang kemudian membentuk Kawah Sikidang. Wisata Jawa Tengah - Dieng Plateau, Kawah Sikidang adalah kawah yang masih aktif dan mengeluarkan gas, uap air dan material vulkanik lainnya. Disamping memiliki sejarah geologi yang panjang, banyak kisah legenda dan mitos tentang Kawah Sikidang dan Anak Gimbal di Dieng. Kawah Sikidang merupakan salah satu obyek wisata alam yang berada di dataran tinggi Dieng Wonosobo, Jawa Tengah. Dataran Tinggi Dieng terbentuk karena letusan gunung Prahu Tua yang terjadi berabad-abad yang lalu, namun aktivitas vulkanik dikawasan ini masih berlangsung aktif hingga saat ini, salah satunya bisa kita saksikan di Kawah Sikidang. Kawah Sikidang masih aktif sampai sekarang, dan cukup aman untuk dikunjungi karena kadar belerangnya rendah. Kawasan Dataran Tinggi Dieng memang menyimpan fenomena alam yang menakjubkan dan sayang untuk dilewatkan. Salah satu dari beberapa kawah vulkanik yang tersebar di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Ketika memasuki Kawasan Kawah Sikidang, Dibagian depan Anda akan menyaksikan langsung lubang besar bekas kawah, dan masih mengeluarkan asap tipis dari kawahnya. Lubang-lubang besar yang bisa anda lihat di bagian depan adalah bekas kawah utama di masa lalu. Sedangkan Kawah Utama yang masih aktif saat ini berada sekitar 1 satu kilometer dari pintu masuk, Anda cukup dengan berjalan kaki menuju kesana. Masih banyak kawah-kawah kecil yang aktif dan diperkirakan terus berkembang dan menggantikan Kawah Utama saat ini Kawah Yang Sering Berpindah dan Melompat-lompat Salah satu daya tarik dari Kawah Sikidang adalah legenda dari si kawah ini. Konon, pemberian nama Sikidang tidak bisa dilepaskan dari karakter si kawah yang hobi "melompat-lompat", yaitu terlihat dari letupan-letupan lumpur panas yang suka berpindah-pindah bahkan terkesan seperti melompat-lompat dari satu tempat ke tempat yang lain. Letak letupan-letupan kawah yang suka berpindah-pindah inilah yang diibaratkan seperti karakter seekor kidang kijang yang suka melompat-lompat. Terlepas dari legenda yang beredar, jika diperhatian lebih mendalam pada bagian tanah gersang berwarna keputihan yang berada di sekitar kawah masih terlihat aktivitas vulkanik di bawahnya. Di bagian lahan yang diberi tanda peringatan masih terlihat beberapa bagian yang mengeluarkan asap vulkanik dan juga lumpur yang cukup panas. Legenda Pangeran Kidang dan Anak Gimbal Selain informasi ilmiah geologi tentang Dataran Tinggi Dieng, tersebar meluas sebuah kisah dan legenda mengenai Kawah Sikidang dan Rambut Gimbal untuk melengkapi khasanah kearifan tradisional setempat. Pada masa lalu, di sekitar kawasan Dieng, hiduplah seorang gadis cantik yang bernama Shinta Dewi, dan kecantikan Shinta Dewi tersebar ke penjuru daerah sehingga banyak pemuda yang ingin meminangnya. Sayangnya, tidak ada yang berhasil meminang Shinta Dewi karena memberikan persyaratan mas kawin dalam jumlah besar. Ilustrasi Pangaeran Sikidang dari Kisah tentang Shinta Dewi pun akhirnya terdengar oleh Kidang Garungan, pangeran yang kaya raya, Dan segera mengutus pengawalnya untuk menyampaikan lamarannya kepada Shinta Dewi dengan kesanggupan memenuhi persyaratan mas kawinnya. Singkat cerita, Shinta Dewi menerima lamaran Pangerang Kidang. Dalam benaknya, seorang pangeran yang kaya pastilah juga berwajah tampan. Namun, alangkah terkejutnya Shinta Dewi ketika melihat perwujudan Pangeran Kidang, yang awalnya dikira Pangeran muda yang kaya dan berwajah tampan, rupanya memiliki sosok manusia tapi berkepala Kijang Kidang atau Rusa. Shinta Dewi pun menjadi bingung karena dia telah menerima lamaran dari sang pangeran. Gadis ini pun mencari akal untuk membatalkan lamaran. Shinta Dewi lalu memberikan persyaratan tambahan yang sangat berat kepada Pangeran Kidang agar dibuatkan sebuah sumur yang besar karena masyarakat sekitar sangat kesulitan mendapatkan air, tentu saja persyaratan ini untuk menggagalkan rencana pertunangannya. Sumur tersebut harus dibuat sendiri oleh sang pangeran dalam satu hari. Pangeran pun menyanggupinya dan sama sekali tidak berkeberatan dengan tugas berat tersebut. Dengan tangan sendiri Pangeran Kidang menggali tanah dan terkadang menggunakan tanduknya. Melihat itu, Shinta Dewi kembali khawatir jika sang pangeran berhasil menyelesaikan persyaratannya. Karena kuatir berhasil, Shinta Dewi lalu meminta pengawal dan dayang-dayangnya menimbun sumur yang sedang digali, ketika sang Pangeran masih berada jauh didalam sumur galiannya. Karena banyaknya orang yang menimbun sumur itu, Pangeran Kidang akhirnya terkubur hidup-hidup di sumur yang digalinya sendiri. Amarah sang pangeran tak tertahan. Amarah itulah yang kemudian membentuk Kawah Sikidang . Akhirnya pangeran Kidang Garungan tewas tertimbun oleh tanah dan terkubur dalam sumur galiannya sendiri. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, sang Pangeran bersumpah bahwa seluruh keturunan Shinta Dewi akan berambut gembel. Sementara itu sumur yang meledak lama kelamaan membentuk sebuah kawah dan diberikan nama Kawah Sikidang Kawah-Kawah Vulkanik Lainnya di Dieng Plateau Kawah Sikidang di Dataran Tinggi Dieng tidak berdiri sendiri, karena kawah aktif di Dieng merupakan kepundan bagi aktivitas vulkanik di bawah dataran tinggi. Beberapa nama kawah lainnya yang mendapat pemantauan rutin untuk aktivitasnya adalah sebagai berikut Kawah Candradimuka Kawah Sibanteng Kawah Siglagah Kawah Sikendang, berpotensi gas beracun Kawah Sileri Kawah Sinila, berpotensi gas beracun Kawah Timbang, berpotensi gas beracun Kawah Sibanteng Sibanteng terletak di Desa Dieng Kulon. Kawah ini pernah meletus freatik pada bulan Januari 2009, menyebabkan kawasan wisata Dieng harus ditutup beberapa hari untuk mengantisipasi terjadinya bencana keracunan gas. Letusan lumpurnya terdengar hingga 2 km, merusak hutan milik Perhutani di sekitarnya, dan menyebabkan longsor yang membendung Kali Putih, anak Sungai Serayu. Kawah Sibanteng pernah pula meletus juga pada bulan Juli 2003. Kawah Sileri Sileri adalah kawah yang paling aktif dan pernah meletus beberapa kali berdasarkan catatan tahun 1944, 1964, 1984, Juli 2003, dan September 2009. Pada aktivitas freatik terakhir 26 September 2009 muncul tiga celah kawah baru disertai dengan pancaran material setinggi 200 meter.[3] Kawah Sinila Sinila terletak di antara Desa Batur, Desa Sumberejo, dan Desa Pekasiran, Kecamatan Batur. Kawah Sinila pernah meletus pada pagi hari tepatnya pada 20 Februari 1979. Gempa yang ditimbulkan membuat warga berlarian ke luar rumah, namun mereka terperangkap gas racun yang keluar dari Kawah Timbang akibat terpicu letusan Sinila. Sejumlah warga 149 jiwa dan ternak tewas keracunan gas karbondioksida yang terlepas dan menyebar ke wilayah pemukiman. Kawah Timbang Timbang adalah kawah yang terletak di dekat Sinila dan beraktivitas sedang. Meskipun kurang aktif, kawah ini merupakan sumber gas CO2 berkonsentrasi tinggi yang memakan ratusan korban pada tahun 1979. Kawah ini terakhir tercatat mengalami kenaikan aktivitas pada bulan Mei 2011 dengan menyemburkan asap putih setinggi 20 meter, mengeluarkan CO2 dalam konsentrasi melebihi ambang aman ppm, konsentrasi normal di udara mendekati 400 ppm dan memunculkan gempa vulkanik. Pada tanggal 31 Mei 2011 pagi, kawah ini kembali melepaskan gas CO2 hingga mencapai 1% v/v ppm disertai dengan gempa tremor. Akibatnya semua aktivitas dalam radius 1 km dilarang dan warga Dusun Simbar dan Dusun Serang diungsikan Peta Wisata Dieng Wonosobo untuk peta lebih besar, silahkan klik Tour de Java Maps disini Kalau berwisata ke deerah wonosobo jangan lupa mampir di Kawah Sikidang Dieng adalah salah satu objek wisata unggulan Dieng yang mudah dicapai dan dinikmati dibandingkan kawah-kawah lainnya di Dieng. Sebelum pandemi COVID-19, setiap minggu banyak wisatawan berkunjung ke Kawah Sikidang untuk menyaksikan aktivitas vulkanik yang dapat disaksikan secara taka hanya itu saja pasalnya dataran Tinggi Dieng adalah gunung berapi raksasa dengan telaga-telaga dan kawah-kawah bekas letusan yang ditempati penduduk. Kawah-kawah yang masih menujukkan aktivitas vulkanik ini menjadi daya tarik tersendiri, begitu juga dengan Kawah Sikidang Kawah Sikidang Dieng berbeda dengan kawah pada umumnya yang terletak di puncak gunung berapi dan susah untuk melihatnya. Sedangkan Kawah Sikidang berada di tanah yang datar sehingga pengunjung leluasa melihat lumpur panas meletup-letup dan gas atau asap yang berwarna putih pekat mengepul di udara. Fenomena alam yang benar-benar menarik mula nama Kawah SikidangKawah Sikidang terbentuk dari letusan gunung berapi di kawasan Dataran Tinggi Dieng bertahun-tahun lalu. Sampai sekarang kawah ini masih ini sangat fenomenal. Pada waktu tertentu, rata-rata sekali dalam 4 tahun, kolam kawah akan berpindah atau seolah-olah melompat dalam satu kawasan seperti karakter hewan kidang kijang dalam bahasa Jawa yang suka melompat. Itulah yang menjadi asal-usul mengapa kawah fenomenal ini dinamakan Kawah dan tiket masuk Kawah Sikidang DiengKawah Sikidang Dieng terletak di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, walaupun masih banyak yang mengatakan letaknya di Wonosobo. Untuk mencapainya juga sangat mudah karena letaknya dekat dengan Kompleks Candi Arjuna dan Candi memasuki kawasan wisata Kawah Sikidang Dieng, dikenai harga tiket masuk yang merupakan tiket terusan dari obyek wisata Kompleks Candi Arjuna dan Candi Bima sebesar arga sewaktu waktu dapat berubah.Ini artinya sebelum ke Kawah Sikidang juga bisa menikmati obyek wisata candi dengan satu tiket terusan. Harga yang murah untuk tiga obyek wisata sekaligus. Lokasi Kawah Sikidang dibuka setiap hari dari jam Aktivitas Vulkanik Kawah Sikidang DiengSeperti kawah-kawah yang lain, Kawah Sikidang juga tinggi akan kandungan sulfur ataupun belerang serta zat beracun lainnya. Oleh sebab itu bau gas yang keluar sangat menyengat dan itu, jika berwisata ke Kawah Sikidang,pengunjung disarankan untuk memakai masker atau penutup mulut lainnya agar tidak keracunan gas Pengunjung juga harus mematuhi rambu-rambu yang tertera di dekat kawah yang melarang pengunjung untuk menyalakan api atau membuang puntung rokok ke dalam kawah. Api yang mengenai zat-zat dari gunung berapi bisa memicu ledakan dan di sekitar kawah pun ikut memutih karena kandungan sulfurnya. Itulah mengapa saat berada di kawasan Kawah Sikidang akan melihat tanah tandus berwarna keputihan karena pepohonan mati akibat aktivitas tak hanya itu saja terdapat juga lubang-lubang bekas kolam kawah di berbagai titik. Tanah di sekitar kawah juga sangat rapuh, jika tidak hati-hati tanahnya bisa ambrol dan pengunjung bisa tercebur ke kolam kawah yang sedang tujuan keamanan, pengelola obyek wisata ini telah memasang pagar pembatas dari bambu untuk menjaga jarak aman dari kolam kawah agar tidak terlalu terpapar gas beracun dan tercebur ke rebus Kawah SikidangKeberadaan Kawah Sikidang dengan segala keunikannya membawa berkah bagi masyarakat sekitar. Semakin banyaknya pengunjung semakin banyak lapangan kerja yang sekitar bisa berjualan makanan dan minuman untuk wisatawan. Biasanya penduduk menjual makanan khas Dieng atau berbahan dasar hasil pertanian utama Dieng, yaitu yang paling dicari pengunjung adalah telor rebus Kawah Sikidang. Masyarakat sekitar menjual telur mentah untuk kemudian direbus di sebuah kawah kecil yang airnya juga bisa langsung merebus sendiri telur di kawah kecil tersebut, dalam 5 menit akan langsung matang. Selain makanan, ada juga masyarakat yang menjual bongkahan-bongkahan belerang yang padat sebagai berfoto dengan burung hantuDi sekitar kawah juga ada fotografer yang bisa traveler sewa untuk pengambilan foto wisata traveler lho. Tidak hanya itu, di sekitar Kawah Sikidang ada penduduk yang menyewakan burung hantu untuk berfoto. Burung hantu jinak yang disewakan akan membuat foto di Kawah Sikidang terkesan ingin berwisata ke Kawah Sikidang, pengaunjung akan melihat ada yang unik dengan penduduk sekitar kawah. – Dataran Tinggi Dieng merupakan salah satu destinasi wisata unggulan di Jawa Tengah. Selain menyuguhkan kesejukan udara khas dataran tinggi, ada banyak tempat wisata alam dan sejarah yang bisa dikunjungi, seperti Kawah Sikidang, Telaga Warna, dan Candi mungkin tidak sedikit yang bertanya apakah Dieng ada di Kabupaten Banjarnegara atau Wonosbo. Baca juga Harga Tiket dan Jam Buka Telaga Warna Dieng Terkini Jawabannya adalah, keduanya. Dieng ada di Banjarnegara dan Wonosobo. Jika masih bingung, berikut ini berikan penjelasannya berikut ini Dieng bagian Wonosobo Kabupaten Wonosobo ternyata memiliki wilayah yang berada di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Wilayah tersebut adalah Desa Dieng yang masuk di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Baca juga Embun Upas Dieng Muncul Lagi, Ini Waktu Terbaik untuk MelihatnyaDesa Dieng ini ada di sisi timur Dataran Tinggi Dieng, tepatnya di Tugu Selamat Datang di Dieng yang kerap jadi latar belakang foto wisatawan. shutterstock/Luvina Picture Telaga Pengilon dan Telaga Warna di Dieng, Jawa Tengah. Beberapa tempat wisata di Dieng yang masuk Kabupaten Wonosobo, adalah Telaga Warna, Dieng Park, Taman Syailendra, Dieng Plateau Theater, dan Batu Pandang Ratapan Angin. Dieng bagian Banjarnegara Selanjutnya adalah wilayah Kabupaten Banjarnegara yang masuk kawasan Dataran Tinggi Dieng. Wilayah itu adalah Desa Dieng Kulon yang masuk di Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Baca juga 15 Wisata Dieng, Wajib Mampir Saat Libur Panjang dan Cuaca Cerah Sebagai info, kulon dalam bahasa Jawa berarti barat. Desa Dieng Kulon pun berada di sebelah barat Desa Dieng Wonosobo. WIKAN PRASETYA Kawah Sikidang Dieng. Beberapa tempat wisata yang masuk Dieng bagian Banjarnegara adalah Candi Arjuna, Candi Bima, Candi Dwarawati, Museum Kailasa, dan Kawah Sikidang. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Dataran Tinggi Dieng terbentuk akibat letusan Gunung Prahu Tua yang terjadi berabad-abad yang lalu. Meski sudah terjadi berabad-abad yang lalu, aktivitas vulkanis di kawasan ini masih tetap terjadi. Salah satu buktinya adalah Kawah di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Kawah Sikidang memiliki keunikan dibandingkan kawah-kawah lain – baik yang ada di Dataran Tinggi Dieng maupun di tempat lain. Kawah utama di kawasan ini memasuki kawasan kawah, akan terlihat beberapa lubang besar yang mengeluarkan asap tidak terlalu tebal. Menurut pihak pengelola, lubang-lubang besar tersebut merupakan kawah utama di masa lalu. Sementara, kawah utama saat ini berada agak jauh dari pintu masuk. Dari pintu masuk, pengunjung harus menempuh perjalanan sekitar 1 kilometer untuk sampai di kawah utama. Jalan menuju kawah utama pun agak menanjak. Selain itu, di sekitar kawasan ini, masih terdapat beberapa kawah kecil yang diperkirakan suatu saat akan menjadi kawah utama – menggantikan kawah utama saat letak kawah utama yang berpindah-pindah inilah kawasan ini diberi nama “sikidang”, yang berasal dari “kidang” kijang. Kawah utama yang berpindah-pindah disamakan dengan sifat kijang yang senang melompat ke sana-ke cerita rakyat yang ada saat ini, sekitar ratusan tahun yang lalu tepatnya di daerah dataran tinggi Dieng terdapat seorang putri cantik nan jelita yang menempati kawasan ini. Nama putri tersebut dikenal dengan sebutan Putri Sinta Dewi. Sang putri ini memang memiliki paras yang cantik dan jelita sehingga membuat siapa pun yang melihatnya pasti akan terpesona. Pada jaman dahulu sang putri ini sudah banyak sekali di Lamar oleh pangeran dari kerajaan lain yang jatuh hati padanya. Namun, semua pangeran yang melamarnya tersebut gagal untuk mendapatkan hati sang putri tersebut. Hal ini di karenakan sang putri ini mengajukan beberapa syarat yang sangat berat kepada orang yang ingin melamarnya. Namun, dari sekian banyak pangeran yang ingin metamarnya tersebut. Ada salah satu pangeran yang memiliki harta kekayaan yang sangat berlimpah dan merasa bisa dan mampu untuk menaklukkan persyaratan yang di ajukan oteh Putri Shinta Dewi. Pangeran tersebut bernama pangeran Kidang Garungan tokoh utama Kawah Sikidang Dieng. Kemudian pangeran tersebut mengutus beberapa pengawalnya untuk memberikan berita lamaran dirinya terhadap sang putri. Singkat cerita, setelah mendengar yang disampaikan oleh para pengawal tersebut, akhirnya sang putri pun menerima lamaran dari pangeran Kidang Garungan. Dan alhasil pangeran pun sangat bahagia dan segera meminta seluruh abdi dalamnya untuk mempersiapkan pernikahannya. Sang putri pada awalnya mengira bahwa pangeran Kidang Garungan ini memiliki paras yang tampan dan rupawan. Namun, setelah mereka berdua bertemu dan bertatap muka, sang putri pun kecewa ternyata pangeran Kidang Garungan tersebut berwujud manusia dengan kepala menyerupai Kidang atau Kijang. Sehingga singkat cerita pun sang putri berusaha untuk membatalkan pernikahan mereka dengan memberikan satu persyaratan terakhir yang amat sangat berat untuk pangeran Kidang, dengan harapan Pangeran Kidang tidak mampu menurutinya dan membatalkan pernikahan mereka. Adapun persyaratan yang diberikan tersebut yakni dengan meminta sebuah sumur yang besar dan harus di kerjakan hanya dalam waktu sehari saja. Singkat cerita, pangeran pun bersedia dengan persyaratan tersebut dan di tengah pengerjaan dan hampir setesai. Setelah merasa rencananya hampir gagal, sang putri pun memerintahkan para pengikutnya untuk menimbun pangeran Kidang dengan pasir. Alhasil, pangeran pun gugur di dalam sumur yang dibuatnya. Dan sebelum tewas, pangeran yang membuat sumur tersebut marah besar dan berkata sambil mengutuk seluruh keturunan putri Shinta Dewi agar kelak memiliki rambut gembel/gimbal. Nah, itulah cerita sejarah dari Kawah Sikidang Dieng yang bisa Anda ketahui. Semoga informasi ini bisa bermanfaat untuk para pecinta wisata saat mengunjungi kawah tersebut.

sejarah kawah sikidang dieng wonosobo